Sekolah Islam Terpadu Al-Khawarizmi

SEKOLAH ISLAM TERPADU

AL-KHAWARIZMI

Catatan Kecil

SUATU SAAT DALAM HIDUP KITA

Suatu saat dalam kehidupan sebagai orang dewasa, kita pasti pernah mengalami saat-saat menegangkan dan penuh tekanan. Tingkat kesibukan, beban pekerjaan, beragam masalah yang dihadapi dan harus diselesaikan, rutinitas kegiatan adalah beberapa hal yang membuat kita seperti kehilangan keceriaan dalam menjalani kehidupan, baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Ketika ini mulai dirasakan maka kita perlu sejenak waktu untuk menjaga “kewarasan” dan “keceriaan” kita.

Ada banyak hal tentunya yang bisa  dilakukan untuk “recharge” energi kita agar tetap bugar, gembira, riang dan ceria, dan membuat hari-hari kita penuh warna. Mulai dari aktivitas transedental dengan Sang Pencipta (sholat, tilawah, dzikir, dll) sampai kepada hal-hal praktis seperti rekreasi, traveling, menekuni hobi, dan lain-lain. Satu hal kecil dan sepele yang sering kali diabaikan dan dilupakan oleh sebagian besar orang adalah menghidupkan kembali dan memelihara “sisi-sisi kekanakan kita”. Ini bukan berarti kita bernostalgia, kembali ke masa kecil atau kembali menjadi seperti anak kecil dan kekanak-kanakan. Tetapi lebih kepada bagaimana kita mampu menghadirkan kembali “keceriaan dan kegembiraan” yang pernah kita rasakan semasa kecil di kehidupan kita sekarang sebagai orang dewasa.

Rasulullah, Muhammad SAW, manusia paling sibuk, paling banyak amanahnya, paling besar tanggungjawabnya, pernah melakukan hal-hal yang menunjukkan sisi-sisi kekanak-kanakan beliau.

Dari Aisyah RA, ia berkata;

“Nabi SAW biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku, walaupun aku sedang haid. Kemudian, baginda membaca al-Quran.” HR Abdulrazzaq

Tidak ada saat yang lebih menyenangkan buat seorang anak kecuali ketika dia meletakkan kepala ke pangkuan ibundanya sembari merebahkan badannya. Apalagi sambil dibelai rambutnya dan dibacakan sepenggal kisah penuh makna. Suasana yang terbangun adalah kenyamanan, kedekatan, kasih sayang dan boleh jadi juga canda tawa. Suasana hati seperti itu barangkali yang dirasakan Rasulullah SAW ketika berbaring dengan kepala di pangkuan Aisyah RA.

Kala yang lain, Rasulullah SAW berlomba lari dengan Aisyah.

Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani).

Ya, lomba lari adalah bagian keceriaan masa kecil dimana setiap kita pasti pernah mengalaminya. Ketika hal ini dilakukan oleh pasutri, maka selain keceriaan, akan didapatkan kemesraan dan romantisme sebagai suami-istri.

Sisi kekanakan lain yang adalah bercanda. Di mata para istri, keluarga dan sahabat, Rasulullah SAW sosok yang “humble” dan humoris, jauh dari kesan angker, apalagi menakutkan. Dalam beberapa kesempatan Rasulullah SAW acap kali melontarkan candaan sarat makna. Seperti fragmen kisah berikut ini:

Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah menjelaskan mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. [Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan]. Dan, nenek tuapun itu tersenyum lebar.

Begitulah cara Rasulullah SAW menjalani kehidupan beliau yang sarat perjuangan dengan penuh warna dan kegembiraan.

Yang didapatkan salah satunya dengan menghidupkan “sisi-sisi kekanakan” dari diri kita. Hidup ini indah, penuh warna, tetapi singkat waktunya. Sayang sekali jika kemudian kita jalani dengan penuh beban dengan sisi-sisi gelapnya.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.