Sekolah Islam Terpadu Al-Khawarizmi

SEKOLAH ISLAM TERPADU

AL-KHAWARIZMI

Biarkan Embun Itu Menjadi Hujan

Catatan Kecil Seorang Ibu Saat Anak Sakit

Malam itu beberapa kali anakku membangunkan aku. Tanpa kata diraihnya tanganku. Dipilin-pilinnya jari jemariku seolah mencari kekuatan dan berbagi kegelisahan. Sambil menahan kantuk kucoba memahami pesan yang ingin disampaikannya. Mungkin dia takut dan khawatir menghadapi situasi yang belum pernah dialaminya. Situasi antara hidup dan mati lantaran rasa sakit yang tak terkata yang dirasakannya. Bisa jadi dengan pegangan tangannya yang makin kuat dia ingin berbagi rasa sakit.

Keesokan malamnya kembali dia gelisah. “Aku ini ngantuk, tapi aku tak bisa tidur”, begitu katanya. Tangan dan kakinya bergerak tak beraturan. Badannya berbolak balik mencari posisi tidur yang nyaman. Kuambil posisi di sampingnya dan duduk di dekat kepalanya. Perlahan kuelus kepalanya dan kusisir rambut tebal dan gondrongnya dengan jari-jariku. Tak kuduga dia menangis, tanpa suara, tapi sedu sedannya makin lama makin keras. Kuambil beberapa lembar tissue dan kubiarkan dia menangis sepuasnya. Sekali lagi, sebagai seorang ibu, aku berusaha menangkap pesan yang ingin disampaikannya. Belaian tanganku di kepalanya akhirnya menghantarkannya dalam tidur nyenyak sampai tembus pagi.

Dua momentum itu membuatku tersadar. Seberapapun usia anak kita, dia tetap membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang ayah. Saat sakit adalah saat paling tepat untuk membangun kedekatan psikologis antara ibu dan anak, antara ayah dan anak. Ayah dan ibu tidak selayaknya menyia-nyiakan momen itu. Dalam kondisi sakit, jiwa anak dalam keadaan halus dan lemah. Saat itu adalah saat yang tepat untuk membangun jembatan hati dengan anak. Saat yang tepat untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatian. Saat yang tepat untuk menyampaikan betapa kita, para orangtua, sangat mencintai mereka. Saat yang tepat untuk menyampaikan bahwa kehidupan dan kematian adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui manusia, hamba Sang Pencipta. Saat yang tepat untuk memahamkan konsep kehidupan dan kematian. Bahwa setelah kehidupan, ada kematian. Dan, setelah kematian ada kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga kematian bukanlah suatu hal yang harus ditakuti.

Maka, tiba-tiba saja hatiku berembun. Membayangkan seandainya momentum itu terlewatkan begitu saja, tanpa berusaha aku mengerti apa pesan yang ingin disampaikannya. Apalagi seandainya justru rasa yang muncul adalah rasa terpaksa, terganggu dan tak rela karena sebagian besar waktuku tersita untuk menemani dan merawatnya.

Maka, tiba-tiba saja hatiku yang berembun, makin berembun. Ketika sepasang kakek nenek renta, teman sekamar kami di rumah sakit, menjalani hari-hari perawatan mereka tanpa satu anakpun yang menemani. Kata mereka, “Ketiga anak kami sudah punya kehidupan sendiri. Mereka sibuk bekerja.” Embun di hatiku tiba-tiba menjadi hujan…

*Wiwin Rahma Suryanti*

1 komentar untuk “Biarkan Embun Itu Menjadi Hujan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.